Jadi minyak dan semua kekayaan yang alam yang terkandung di dalam bumi dan air negara indonesia itu milik siapa sebetulnya?
Dengan cara negara mematok (atau menuju) harga internasional untuk dijual pada rakyatnya sendiri menunjukkan rakyat tidak memilikinya,
seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945.
Tidak perlulah berceramah berbusa-busa lagi bahwa ini karena kita sekarang net importer, bla bla, karena itu sampah, bahwa sebagian orang suka dan percaya sampah karena dibungkus dengan plastik warna-warni dan merk berbahasa inggris bukan berarti dia berubah menjadi coklat.
Bagaimana dengan logika
begini: harga akan dijual pada rakyat dengan harga internasional atau
semakin mendekati harga internasional (semuanya, termasuk yang
dihasilkan dari bumi indonesia sendiri) agar kemudian profit yang
diterima negara dikembalikan kepada rakyat lagi, dalam bentuk lain
misalnya kesehatan, transportasi publik, pendidikan dll?
Boleh-boleh saja, tapi mintalah baik-baik pada rakyat. Dengan jujur
bahwa ini bukan bentuk kebaikan mulia dan kesusah-payahan pemerintah
untuk mensubsidi, lalu subsidi untuk rakyat dikurangi karena rakyat
sudah membebani pemerintah. Jadi berani jujur bahwa ini bukan subsidi
negara pada rakyat tapi ini sebetulnya subsidi rakyat pada negara, ini
baru hebat. Baru ini titisan soekarno, baru revolusi mental.
Dengan santun, bukan malah sebaliknya mengata-ngatai rakyat malas
(padahal dulu waktu kuliah di luar negeri disubsidi juga pakai beasiswa
dari pajak rakyat), atau rakyat sebetulnya orang kaya (karena bisa beli
motor dan tidak mau memakai transportasi umum) yang mengemis-ngemis
subsidi salah sasaran padahal masih bisa beli hp mahal atau beli rokok,
atau membodoh-bodohkan rakyat sebagai tidak tahu ilmu ekonomi atau tidak
tahu dunia niaga minyak. Tidak perlu membanding-bandingkan rakyat kita
yang manja dengan rakyat amerika atau swedia atau jepang yang gagah
berani (inlander banget sih alasan ini?). Tidak perlu pakai ceramah
moral nan pongah "toh nanti sebentar kalian lupa, lalu ganti bisa
ketawa-ketiwi selfie lagi" atau tidak perlu bawa nama "prabowo juga bla
bla" (presidennya siapa sih, koq situ belum bisa move on?).
Dengan memberitahu konsekuensinya pada rakyat, bahwa bukan cuma dua ribu
yang ditanggung rakyat tapi juga harga-harga barang lainnya juga pasti
akan naik dan menjadi inflasi, bahwa sebagian rakyat akan jadi jatuh
miskin. Dengan meminta kebaikan rakyat untuk rela berkorban menjadi
miskin sebentar untuk memodali negara dalam rangka membangun pondasi
untuk menjadi negara makmur ke depannya.
Dengan janji sepenuh
hati dan rencana yang serius bahwa laba dari kenaikan itu tidak
digunakan untuk men-subsidi hutang bankir, tidak untuk menyelamatkan
bank nakal, tidak untuk menaikkan gaji birokrat dan pegawai negerinya,
tidak untuk membiayai kampanye partainya, tapi untuk memperbaiki
transportasi publik (bukan cuma jalan raya beribu-ribu kilometer di jawa
yang hanya menyenangkan pemilik mobil-mobil pribadi), untuk memperbaiki
akses transportasi di pulau-pulau terpencil, untuk meningkatkan
kualitas kesehatan dan pendidikan, membantu pasar tradisional dan usaha
kecil dst.
Dengan janji sepenuh hati bahwa bukan cuma rakyat yang
berkorban karena terkena inflasi, tapi juga orang-orang kaya akan
diminta berkorban, dengan meningkatkan pajak rokok impor, dengan
meningkatkan pajak mobil mewah, dengan memperketat usaha-usaha
konglomerasi properti, mall, dan lain-lain yang tidak punya efek
industrialis.
Dengan permintaan maaf sebesar-besarnya mengakui
kesalahan tata kelola migas yang pro-asing, liberalis dan koruptif dan
berjanji akan memperbaikinya dengan merencanakan pembangunan kilang dan
mengalihkan sebagian laba untuk eksplorasi-produksi sumber minyak baru
(sebagai solusi jangka pendek menengah untuk mengurangi beban subsidi
rakyat kepada negara), dan mengembangkan sumber energi baru (untuk
solusi jangka panjang tidak mengimpor energi).
Kalau sudah
begitu, maka rakyat kita yang baik-baik ini pasti akan memahami,
menerima, siap berkorban dengan menjadi miskin, dengan harapan
kemiskinan itu hanya sementara dan negeri ini akan tinggal landas
menjadi negeri yang makmur beberapa tahun lagi.
Mungkin seperti
yang sudah-sudah, janji-janji itu terlalu normatif untuk bisa dievaluasi
dengan riil, tapi kejujuran dan kerendahhatian barangkali sebuah awal
yang baik untuk lebih mudah diukur janjinya di masa depan.
Maka
rakyat akan menyingsingkan lengan baju, bersiap-siap miskin dan
bergotong royong mensubsidi negara menyongsong masa depan yang lebih
baik.
-----------------------------------------------------------------------------
NB: Saya ingin menyampaikan "kegemasan" saya disini pada orang-orang
yang menulis dalil-dalil bertawakal pada Tuhan atau Nabi menerima harga
pasar, atau wajib taat pada pemerintah. Jadi kalian itu insan beriman
pada tuhan atau beriman pada marx yang komunis, koq mempraktekkan
tesisnya Marx kalau agama itu candu masyarakat? dibohongi koq disuruh
pasrah-pasrah saja pakai dalil agama. Betul, bahwa protes atau kritis
tidak akan mengubah apa-apa. Lalu kenapa kalian takut kalau ada protes
atau kritik? Biar lebih gampang lagi bohongnya? Meh!
Oleh Priyo Jatmiko
