Saturday, December 6, 2014

Rakyat Rela Berkorban Mensubidi Negara Koq, Asalkan...


Jadi minyak dan semua kekayaan yang alam yang terkandung di dalam bumi dan air negara indonesia itu milik siapa sebetulnya?
Dengan cara negara mematok (atau menuju) harga internasional untuk dijual pada rakyatnya sendiri menunjukkan rakyat tidak memilikinya,
seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Tidak perlulah berceramah berbusa-busa lagi bahwa ini karena kita sekarang net importer, bla bla, karena itu sampah, bahwa sebagian orang suka dan percaya sampah karena dibungkus dengan plastik warna-warni dan merk berbahasa inggris bukan berarti dia berubah menjadi coklat.
Bagaimana dengan logika begini: harga akan dijual pada rakyat dengan harga internasional atau semakin mendekati harga internasional (semuanya, termasuk yang dihasilkan dari bumi indonesia sendiri) agar kemudian profit yang diterima negara dikembalikan kepada rakyat lagi, dalam bentuk lain misalnya kesehatan, transportasi publik, pendidikan dll?
Boleh-boleh saja, tapi mintalah baik-baik pada rakyat. Dengan jujur bahwa ini bukan bentuk kebaikan mulia dan kesusah-payahan pemerintah untuk mensubsidi, lalu subsidi untuk rakyat dikurangi karena rakyat sudah membebani pemerintah. Jadi berani jujur bahwa ini bukan subsidi negara pada rakyat tapi ini sebetulnya subsidi rakyat pada negara, ini baru hebat. Baru ini titisan soekarno, baru revolusi mental.
Dengan santun, bukan malah sebaliknya mengata-ngatai rakyat malas (padahal dulu waktu kuliah di luar negeri disubsidi juga pakai beasiswa dari pajak rakyat), atau rakyat sebetulnya orang kaya (karena bisa beli motor dan tidak mau memakai transportasi umum) yang mengemis-ngemis subsidi salah sasaran padahal masih bisa beli hp mahal atau beli rokok, atau membodoh-bodohkan rakyat sebagai tidak tahu ilmu ekonomi atau tidak tahu dunia niaga minyak. Tidak perlu membanding-bandingkan rakyat kita yang manja dengan rakyat amerika atau swedia atau jepang yang gagah berani (inlander banget sih alasan ini?). Tidak perlu pakai ceramah moral nan pongah "toh nanti sebentar kalian lupa, lalu ganti bisa ketawa-ketiwi selfie lagi" atau tidak perlu bawa nama "prabowo juga bla bla" (presidennya siapa sih, koq situ belum bisa move on?).
Dengan memberitahu konsekuensinya pada rakyat, bahwa bukan cuma dua ribu yang ditanggung rakyat tapi juga harga-harga barang lainnya juga pasti akan naik dan menjadi inflasi, bahwa sebagian rakyat akan jadi jatuh miskin. Dengan meminta kebaikan rakyat untuk rela berkorban menjadi miskin sebentar untuk memodali negara dalam rangka membangun pondasi untuk menjadi negara makmur ke depannya.
Dengan janji sepenuh hati dan rencana yang serius bahwa laba dari kenaikan itu tidak digunakan untuk men-subsidi hutang bankir, tidak untuk menyelamatkan bank nakal, tidak untuk menaikkan gaji birokrat dan pegawai negerinya, tidak untuk membiayai kampanye partainya, tapi untuk memperbaiki transportasi publik (bukan cuma jalan raya beribu-ribu kilometer di jawa yang hanya menyenangkan pemilik mobil-mobil pribadi), untuk memperbaiki akses transportasi di pulau-pulau terpencil, untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan, membantu pasar tradisional dan usaha kecil dst.
Dengan janji sepenuh hati bahwa bukan cuma rakyat yang berkorban karena terkena inflasi, tapi juga orang-orang kaya akan diminta berkorban, dengan meningkatkan pajak rokok impor, dengan meningkatkan pajak mobil mewah, dengan memperketat usaha-usaha konglomerasi properti, mall, dan lain-lain yang tidak punya efek industrialis.
Dengan permintaan maaf sebesar-besarnya mengakui kesalahan tata kelola migas yang pro-asing, liberalis dan koruptif dan berjanji akan memperbaikinya dengan merencanakan pembangunan kilang dan mengalihkan sebagian laba untuk eksplorasi-produksi sumber minyak baru (sebagai solusi jangka pendek menengah untuk mengurangi beban subsidi rakyat kepada negara), dan mengembangkan sumber energi baru (untuk solusi jangka panjang tidak mengimpor energi).
Kalau sudah begitu, maka rakyat kita yang baik-baik ini pasti akan memahami, menerima, siap berkorban dengan menjadi miskin, dengan harapan kemiskinan itu hanya sementara dan negeri ini akan tinggal landas menjadi negeri yang makmur beberapa tahun lagi.
Mungkin seperti yang sudah-sudah, janji-janji itu terlalu normatif untuk bisa dievaluasi dengan riil, tapi kejujuran dan kerendahhatian barangkali sebuah awal yang baik untuk lebih mudah diukur janjinya di masa depan.
Maka rakyat akan menyingsingkan lengan baju, bersiap-siap miskin dan bergotong royong mensubsidi negara menyongsong masa depan yang lebih baik.
-----------------------------------------------------------------------------
NB: Saya ingin menyampaikan "kegemasan" saya disini pada orang-orang yang menulis dalil-dalil bertawakal pada Tuhan atau Nabi menerima harga pasar, atau wajib taat pada pemerintah. Jadi kalian itu insan beriman pada tuhan atau beriman pada marx yang komunis, koq mempraktekkan tesisnya Marx kalau agama itu candu masyarakat? dibohongi koq disuruh pasrah-pasrah saja pakai dalil agama. Betul, bahwa protes atau kritis tidak akan mengubah apa-apa. Lalu kenapa kalian takut kalau ada protes atau kritik? Biar lebih gampang lagi bohongnya? Meh!

Oleh Priyo Jatmiko